BUNGA RAMPAI PENERBANGAN DI ANGKASA PAPUA

BUNGA  RAMPAI  PENERBANGAN  DI ANGKASA  PAPUA

Papua  tanah yang tak pernah kutinggalkan didalam pikiranku selama ini, saya berkarya di Perhubungan Udara selama lebih dari 30 Tahun, dan hampir lima puluh persennya saya ukir di bumi ini 13 Tahun saya mengabdi di bidang keselamatan penerbangan.

Lalu lintas penerbangan disini sangat spesifik pengaturannya, kadang kalau kita tidak jeli banyak penerbangan yang tidak mengikuti prosedur baku, yaitu apakah penerbangan secara Instrument atau secara Visual, seringkali mereka mencampurkan kedua2nya dan itu , jarang dilaporkan di dalam “Flight Planning” atau perubahan dari perencanaanya, apakah itu ??   Yaitu yang disebut dengan special VFR, seharusnya pengatur lalu Lintas Udara yang sekarang semakin canggih ilmunya tahu akan itu, namun seringkali bahkan mungkin saat ini tidak seorang penerbang yang melakukan penerbangan Visual melaporkan itu bila mengalami cuaca below minima terutama sedang dalam penerbangan jelajah.

Di Papua  karena alamnya maka banyak keterbatasan 2 yang saat ini tidak boleh dilanggar sebelum, regulasi, atau prosedur, peralatan dan sarana dukung lainnya di gelar.

Keterbatasan Pemakaian Ruang  Udara  vertikal 20.000Kaki kebawah.

Hal ini hampir dilakukan terutama di ruang angkasa Papua khususnya untuk penerbangan dibawah ketinggian 20.000Kaki, pemakaian jalur ruang udara di rute2 tertentu seringkali terasa padat, namun itu bisa saja terjadi bukan karena banyaknya pesawat yang terbang namun karena  didalam “valey” yang mempunyai ketinggian jalur pegunungan kadang lebih dari 10000kaki, sehingga di dalam jalur tersebut  jumlah pesawat yang melewati jumlahnya menjadi sangat terbatas, dan tidak semua pesawat terbang  kecil di Papua dapat terbang diatas 14000kaki.

Keterbatasan Pemakaian Ruang  Udara  horizontal penerbangan jelajah 20000Kaki kebawah.

Dengan adanya pemekaran kabupaten, secara otomatis sesuai fungsi pemekarannya masing2 kabupaten akan berupaya mempercepat pembangunan wilayahnya, perlu diketahui walaupun terjadi pemekaran jalan darat saat ini tidak dapat dimungkinkan menjadi prioritas banyak kendala dan kelemahannya sehingga transportasi moda udara masih menjadi pilihan, ini tidak dapat dilarang atau kita dianggap tidak mendukung percepatan pembangunan daerah tertinggal, sehingga khirnya ruang udara secara horisontalpun menjadi terbatas dan segera diwaktu mendatang akan menjadi terbatas.  Saat ini misalkan ada penerbangan dari Nabire ke Jayapura, dan ada penerbangan dari Taiyeve ke Jayapura, atau dari Mamberamo pasti akan bertemu, saat ini masih bernasib baik. Dan masih banyak rute2 yang saling bertemu, namun seyogyanya mereka harus dibantu dengan regulasi dan prosedur, jangan dibiarkan karena mereka terbang Visual, mengapa?? Karena keterbatasan salah satunya akibat cuaca, penerbang bisa saja beralih kapan saja menjadi penerbangan Instrument, atau mencampur adukannya tapi tidak melaporkan, karena mereka menganggap sebentar lagi cuaca  visual .

Keterbatasan Pemakaian Ruang  Udara  horizontal disekitar jalur dari dan ke Bandar Udara.

Karena keterbatasan lahan yang bergunung gunung serta lokasi hunian maka banyak Lapangan Terbang yang terletak di lembah dengan latar belakangnya berupa gunung yang menjulang dan terletak di ceruk lembah yang cukup terjal, sehingga sebuah pesawat terbang  yang sudah turun dari ketinggian tertentu memasuki lembah serta menurunkan “Flap’s” pada sudut tertentu akan sulit melakukan “Go Around” artinya “decision” untuk mendarat harus dilakukan pada ketinggian yang cukup jauh, anda bisa bayangkan bagaimana kalau tiba2 besawat yang dibawah sudah memasuki landasan padahal tidak semua landasan ada pengatur lalu lintas udaranya.

Keterbatasan Pemakaian Ruang  Udara  yang diakibatkan oleh cuaca dan angin.

Beberapa Lapangan terbang terletak di punggung bukit, dimana bukit tersebut didalam ngarai lebar dan panjang, misalkan seperti bandar Udara Sinak, yang saat ini panjangnya sekitar 900M, dipagi hari angin di lembah ngarai masih rendah dan semakin kencang angin yang menghembus melalui ngarai pada siang hari sehingga apabila mendekati pukul 11 pagi hari angin sudak diatas 10 hingga 15knot dan mengakibatkan “cross wind” sehingga penerbangan ke Bandar Udara tersebut hanya didarati sebelum jam 1100 pagi, karena lokasinya cukup jauh dari jayapura sehingga arah landasan perlu dirubah sejajar arus arah ngarai, Penerbangan ke Oksibil salah satu contoh kemungkinan yang perlu diwaspadai tidak hanya kondisi cuaca di Lokasi, namun juga cuaca di jalur penerbangannya, seringkali penerbang 2 yang sudah mempunyai tradisi safety terbang di Papua selalu memperhatikan, apabila cuaca di point 6234 telah terjadi “Building Up” untuk pesawat terbang yang hanya mempunyai kemampuan terbang hingga 14500 kaki pasti membatalkan penerbangannya.

Keterbatasan Pemakaian Ruang  Udara disekita bandar udara.

Diwilayah lainnya mungkin dapat dilaksanakan namun di Papua apabila KKOP harus dilaksanakan banyak gunung harus dipotong, Sentani misalkan, pegunungan Cycloops harus dipotong hingga 150M, padahal tinggi gunung adalah lebih dari 2000M, slope landasan di Lapangan terbang di Mulia lebih dari 10%, padahal syaratnya Cuma 1-2%, sehingga dibutuhkan pesawat  terbang yang khusus, itulah karenannya ICAO sudah mementukan klasifikasi Pesawat, sehingga pemilihannya yang harus pandai untuk peruntukannya.

Keterbatasan Lain2nya.

Masih banyak keterbatasan lainnya antara lain terutama fasilitas pendukung, utamanya adalah informasi cuaca baik perjalanan dan lokasi serta sekitar lokasi tidak dikelola secara komprehensive oleh terutama orang2 yang berpengalaman apalagi mempunyai ilmu observer serta “forcaster lokal”, serta sistem penyampaiannya sama sekali untuk penerbangan komersial dan layanan oleh yang bersangkutan, nyaris tidak ada yang tersedia adalah pemberian cuaca di lokasi. Apakah prosedur penerbangan Instrument menolong???, masih banyak  yang harus dipikirkan, apakah penerbangannya Instrument rated, pesawatnya, dan yang membuat prosedur apakah hanya punya pengalaman diatas meja saja, ataukah juga punya ilmu dan pengalaman di lapangan??? Ini juga merupakan keterbatasan orang2 dibelakang dan pendukungnya

Terus bagaimana dong dengan keterbatasan ini

Semua boleh saja terbatas namun orang2 dibelakangnya jangan terbatas donk baik ilmu ,  pengetahuannya dan pengalamannya, orang sekarang suka mengabaikan pengalaman  kata orang yang pandai cukup belajar dari pengalaman orang lain. Pembangunan dan pengembangan lokasi juga tidak boleh dibatasi, sehingga diperlukan orang2 yang tidak tunduk saja terhadap keterbatasan namun dengan nilai safety yang tinggi pula, sulit ya mencari orang2nya, ingat sulit berarti bukannya tidak ada.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Connecting to %s


Follow

Get every new post delivered to your Inbox.